Guru ideal adalah dambaan peserta didik. Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis.Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.
Guru ideal adalah guru yang menguasai ilmunya dengan baik. Mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya. Disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami. Ilmunya mengalir deras dan terus bersemi di hati para anak didiknya.
Tapi, dia pun harus bisa menerima kritikan dari peserta didiknya. Dari kritik itulah dia dapat belajar dari para peserta didiknya. Guru ideal justru harus belajar dari peserta didiknya. Dari mereka guru dapat mengetahui kekurangan cara mengajarnya, dan melakukan umpan balik. Benarkah sosok itu ada? Lalu seperti apakah sosok guru ideal yang diperlukan saat ini? Apakah guru ideal hanyalah guru yang sudah lulus sertifikasi guru? Benarkah demikian?
Dari hasil perenungan yang mendalam, dan juga hasil wawancara dan quisioner didapatkan pendapat yang beragam dan mengerucut pada tiga pendapat tentang guru ideal. Guru ideal yang diperlukan saat ini adalah pertama, guru yang memahami benar akan profesinya. Profesi guru adalah profesi yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridho dari Tuhan pemilik bumi.
Falsafah hidupnya adalah tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Hanya memberi tak harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya (Salam, Sapa, Senyum, Syukur, dan Sabar).
Kedua, Guru yang ideal adalah guru yang memiliki sifat selalu berkata benar, penyampai yang baik, kredibel, dan cerdas. Guru yang memiliki keempat sifat itu adalah guru yang mampu memberikan keteladanan dalam hidupnya karena memiliki budi pekerti yang luhur. Selalu berkata benar, mengajarkan kebaikan, dapat dipercaya, dan memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Sifat tersebut di atas harus dimiliki oleh guru dalam mendidik anak didiknya karena memiliki motto iman, ilmu, dan amal. Memiliki iman yang kuat, menguasai ilmunya, dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain.
Terakhir, Guru yang ideal adalah guru yang memiliki 5 kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki terpancar jelas dari karakter dan perilakunya sehari-hari. Baik ketika mengajar, ataupun dalam hidup ditengah-tengah masyarakat. Kelima kecerdasan itu adalah: kecerdasan intelektual, moral, sosial, emosional, dan motorik. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan moral,
Mengapa? Bila kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya mementingkan keberhasilan ketimbang proses, segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai semaksimal mungkin.
Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan.
Selain kecerdasan intelektual dan moral, kecerdasan sosial juga harus dimiliki oleh guru ideal agar tidak egois, dan selalu memperdulikan orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Dia pun harus mampu bekerjasama dengan karakter orang lain yang berbeda. Kecerdasan emosional harus ditumbuhkan agar guru tidak mudah marah, tersinggung, dan melecehkan orang lain.
Sedangkan kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu melakukan mobilitas tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil yang maksimal. Kecerdasan motorik harus senantiasa dilatih agar guru dapat menjadi kreatif dan berprestasi.
Karena itu sudah sewajarnya bila kita sebagai guru berlomba-lomba untuk menjadi sosok guru yang ideal. Ideal di mata peserta didik, ideal di mata masyarakat, dan ideal di mata Sang Maha Pemberi. Bila semakin banyak guru ideal yang tersebar di sekolah-sekolah kita, maka sudah dapat dipastikan akan banyak pula sekolah-sekolah berkualitas yang mampu membentuk karakter siswa memiliki budi pekerti yang luhur..(vivanews)
Ditulis dalam Pembelajaran | Leave a Comment »
Definisi Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik.
Fisher dkk (2001:7) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam menggambarkan situasi secara keseluruhan.
- Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.
- Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.
- Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.
- Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.
- Transformasi Konflik, mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.
Tahapan-tahapan diatas merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan dalam mengelola konflik. Sehingga masing-masing tahap akan melibatkan tahap sebelumnya misalnya pengelolaan konflik akan mencakup pencegahan dan penyelesaian konflik.
Sementara Minnery (1980:220) menyatakan bahwa manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan proses. Minnery (1980:220) juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik perencanaan kota merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal. Sama halnya dengan proses manajemen konflik yang telah dijelaskan diatas, bahwa manajemen konflik perencanaan kota meliputi beberapa langkah yaitu: penerimaan terhadap keberadaan konflik (dihindari atau ditekan/didiamkan), klarifikasi karakteristik dan struktur konflik, evaluasi konflik (jika bermanfaat maka dilanjutkan dengan proses selanjutnya), menentukan aksi yang dipersyaratkan untuk mengelola konflik, serta menentukan peran perencana sebagai partisipan atau pihak ketiga dalam mengelola konflik. Keseluruhan proses tersebut berlangsung dalam konteks perencanaan kota dan melibatkan perencana sebagai aktor yang mengelola konflik baik sebagai partisipan atau pihak ketiga.
Teori-teori Konflik
Teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik adalah:
a. Teori hubungan masyarakat
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.
Sasaran: meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada didalamnya.
Teori kebutuhan manusia
Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi.
Sasaran: mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan itu.
Teori negosiasi prinsip
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.
Sasaran: membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap. Kemudian melancarkan proses kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.
Teori identitas
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.
Sasaran: melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan ketakutan di antara pihak tersebut dan membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.
Teori kesalahpahaman antarbudaya
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
Sasaran: menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai budaya pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain, meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.
Teori transformasi konflik
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.
Sasaran: mengubah struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan termasuk kesenjangan ekonomi, meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antar pihak yang berkonflik, mengembangkan proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi, pengakuan.
Konflik selalu timbul di tempat kerja, dan itu tidak bisa dihindarkan. Namun pemimpin harus mengelolanya secara luwes agar irama kerja sehari-hari tidak terganggu.
Sebagai pemimpin ada berbagai strategi manajemen konflik, yaitu:
Teknik 1: Ajak orang-orang yang sedang konflik pada tujuan yang lebih tinggi. Contoh, bagian anda terlibat konflik dalam menentukan kuota penjualan. Bagian keuangan menuntut penjualan setinggi-tingginya, sedangkan bagian anda menuntut dukungan biaya promosi besar-besaran. Begitu orang-orang itu kita ajak bicara pada tataran corporate, untuk tujuan yang lebih besar, mereka akan cenderung untuk berpikir lebih jernih.
Teknik 2: Memperluas sumber daya yang ada. Konflik bisa terjadi karena sumber daya yang langka yang dibutuhkan banyak orang. Contoh, hanya ada satu saluran telpon untuk dua bagian. Ketika mereka akan menggunakannya, mereka saling berebut. Cara manajemen konfliknya? Ya, tambah saja pesawat telponnya. Ini adalah contoh yang sangat menggampangkan, namun saya harapkan anda menangkap gagasannya.
Teknik 3: Penghindaran. Ini yang sering dilakukan oleh orang pada umumnya. Daripada ribut dan konflik terus dengan tetangganya, orang itu kemudian menghindar dan berusaha untuk tidak bertatapan dengan tetangganya itu. Ini memang bukan cara manajemen konflik yang efektif, namun kadang, dengan penghindaran ini, pihak yang ingin konflik akan berkurang ‘semangat’ untuk konfliknya.
Teknik 4: Mencari titik temu. Ketika anda sebagai pemimpin dan menemui orang yang konflik, anda dapat memakai teknik ini. Teknik ini berusaha mencari persamaan yang ada antara pihak yang terlibat konflik, sekaligus juga diperkecil perbedaan yang ada. Contoh ada konflik antara bagian pemasaran dan produksi. Daripada berdebat perbedaan fungsi kedua bagian itu, manajemen konflik dapat mencari persamaan kedua bagian itu. Misalnya, mereka sama-sama fungsi yang sangat penting dalam perusahaan, karena tanpa keduanya, perusahaan tidak akan bisa hidup…
Ditulis dalam Teknik Industri | Bertanda Psikologi Industri | Leave a Comment »
ANALISA “SWOT” KAMPUS DI BATAM DIBANDING DENGAN LUAR BATAM.
SWOT adalah kepanjangan dari STRENGTH, WEACKNESS, OPORTUNITY, TREATMENT.
STRENGTH adalah Kekuatan
WEAKNESS adalah Kelemahan
OPPORTUNITY adalah Kesempatan
TREATMENT adalah Ancaman.
Kekuatan kampus di batam dibanding dengan kampus diluar batam.
Batam adalah kota industri sehingga banyak perusahaan yang menanamkan investasi dan menjadikan kota ini sebagai pusat perusahaanya. Seiring dengan perkembangan zaman tak kurang dari ratusan perusahaan nasional dan perusahaan internasional dengan berbagai bidang usaha yang mendirikan perusahanya dikota ini.
Semakin banyaknya perusahaan juga semakin banyak tenaga kerja yang terserap ke dunia industri. Seiring dengan perkembangan teknologi maka diperlukan tenaga kerja yang profesional dan berpendidikan tinggi. Pendidikan tinggi formal hanya ada di kampus. Dengan kata lain kampus di batam sangatlah diperlukan.
Beberapa contoh kekuatan kampus di batam dibanding diluar batam adalah sebagai berikut:
a. Di batam persaingan tenaga kerja semakin ketat sehingga mengharuskan tenaga kerja untuk belajar di perguruan tinggi. Dengan kata lain kampus di batam banyak pelangganya yaitu mahasiswa.
b. Mata kuliah yang di ajarkan langsung mengacu kepada dunia industri sehingga begitu lulus langsung bisa terserap ke dunia kerja.
c. Semakin banyaknya perusahaan semakin mudah bagi mahasiswa untuk mencari tempat praktek kerja lapangan dan melakukan study kasus.
d. Batam berpenduduk padat sehingga semakin banyak pula calon mahasiswa.
e. Hanya kampus di batam ini saja yang bisa bekerja sambil kuliah, sehingga bagi mahasiswa yang sibuk bekerja tidak perlu susah payah kuliah di luar batam.
f. Banyak dosen yang sudah berpengalaman di dunia kerja.
Kelemahan kampus di batam dibanding kampus diluar batam :
a. Mahasiswa dan dosennya disamping aktif di kampus juga bekerja sehingga sering kali tidak bisa hadir di kampus sehingga akan menghambat proses belajar mengajar.
b. Mahasiswa dan dosen tidak banyak mempunyai waktu untuk belajar karena minimal 8 jam sehari mereka harus bekerja.
c. Tidak tersedianya fasilitas yang memadai seperti perpustakaan dan sedikitnya buku-buku yang berkaitan dengan teknologi di banding kota lain.
d. Batam dekat dengan Malaysia dan Singapura sehingga akan menghadapai persaingan yang sangat ketat khusunya di dunia pendidikan. Cukup banyak mahasiswa yang memilih kuliah di luar negeri dengan alasan kualitas.
e. Ada beberapa kampus yang hanya formalitas saja sehingga melenceng dari tujuan semula yaitu kampus yang sebenarnya sebagai lembaga untuk menutut ilmu dan penelitaian hanya sebagai tempat untuk memperoleh gelar saja. Dengan kata lain banyak kemungkinan oknum yang memanfaatkan kampus sebagai jalan pintas untuk memperolah gelar tanpa harus bersusah payah.
f. Kebanyakan kuliah hanya dilakukan pada malam hari sehingga kalau tidak dilengkapi dengan penerangan dan fasilitas kegiatan belajar mengajar yang memadai tidak akan diperoleh hasil yang maksimal.
g. Sebagian dosen dan mahasiswa juka pekerja sehingga dalam keadaan lelah setelah bekerja akan sulit berkonsentrasi dalam kegiatan belajar mengajar.
h. Tidak banyak mahasiswa yang tertarik untuk melakukan kegiatan exstrakurikuler karena terbatasnya waktu.
C. Kesempatan kampus di batam.
a. Batam berpenduduk padat sehingga banyak calon mahasiswa.
b. Batam dekat dengan luar negeri sehingga memudahkan proses alih teknologi dari kampus luar negeri.
c. Karena kedekatanya dengan singapura dan malaysia sangat mungkin untuk dilakuakan pertukaran pelajar atau mahasiswa.
d. Batam kota besar sehingga banyak kemudahan teknilogi untuk masuk ke kampus khususnya lewat internet.
e. Kampus di batam dekat dengan dunia industri sehingga lulusanya akan cepat terserap ke lapangan kerja sehingga menarik mahasiswa untuk kuliah di batam
.
D. Ancaman kampus di batam.
a. Kalah di dalam persaingan dengan kampus di luar negeri.
b. Banyak dimanfaatkan oleh oknum yang ingin jalan pintas yang hanya ingin mandapatkan gelar tanpa kuliah dan bahkan banyak oknum yang rela membayar tinggi hanya untuk memperoleh gelar atau lebih ngetrenya “mahasiswa siluman”.
c. Karena terbatasnya waktu tidak akan di peroleh proses belajar mengajar yang memadai sehingga di khawatirkan banyak lulusan kampus di batam yang lulus karena karbitan (matang sebelum waktunya) sehingga akan kalah bersaing dengan kampus lain.
CONTOH MERK PRODUK DAN PRODUK PEMBUNUHNYA
.
Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat. Seiring dengan itu semakin banyak produk-produk yang di tawarkan kepada konsumen dengan berbagai keunggulanya masing-masing. Demi menggaet konsumen tak jarang para produsen melakukan riset dan percobaan demi tercapainya produk yang bisa bersaing di pasaran. Tak jarang suatu perusahaan gulung tikar karena kalah bersaing tapi banyak juga perusahaan yang semakin maju dikarenakan selalu mengikuti perkembangan teknologi.
Sebagai satu contoh adalah persaingan dibidang otomotif khususnya sepeda motor. Perusahaan yang telah puluhan tahun menguasai pasaran sepeda motor di kawasan asia yaitu ada tiga perusahaan jepang yang besar yaitu Honda, Yamaha dan Suzuki. Tiga perusahaan ini tak henti-hentinya melakukan inovasi yang disertai teknologi yang canggih bahkan hampir setiap setengah tahun perusahaan tersebut mengeluarkan produk andalanya. Merk-merk produk masing masing perusahaan tersebut antara lain :
a. Merk-Merk Produk Honda kelas bebek:
Honda Astrea star (1988), Honda Astrea prima (1989-1994),
Supra X, Supra Z, Supra XX, Honda Kharisma 125 (2004), Honda Kharisma 125D, Kharisma 125DX, Dan yang terakhir Supra Fit, Supra X 125 dengan sistem injection (pengataran pemasukan bahan bakar ke silinder lebih teratur dan yang baru di rilis adalah Vario.
b. Merk Produk Yamaha Kelas Bebek :
Yamaha Alfa, Alfa 2, Alfa 2 R, Yamaha crypton, Vega, Vega R, Yamaha Yupiter, Yupiter MX ( dilengkapi radiator), dan yang terakhir Yamaha MIO untuk para wanita.
c. Merk Produk Suzuki Kelas bebek:
Suzuki RC 100, Suzuki Tornado, Suzuki Shogun, Shogun 125, Smash (Sigesit Irit),
Kalau kita perhatikan secara seksama satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing akan tetapi. Ada kesamaan yaitu kecenderungan untuk mengeluarkan produk dengan konsumsi bahan bakar yang seirit mungkin tetapi dengan tenaga dan kecepatan semaksimal mungkin. Juga kecenderungan produk yang ramah lingkungan yaitu peralitahan dari teknologi 2 tak menjadi 4 tak yang tidak memerlukan oli samping.
Masing-masing perusahaan mengeluarkan produk tandingan/pembunuh agar para pelanggan tidak beralih ke produk lain ini sangat terlihat pada akhir-akhir ini seperti di iklan televisi mereka berlomba mempromosikan produknya dengan bantuan artis terkenal untuk menarik pelanggan.
Bisa kita lihat persaingan ketat denagan tabel di bawah ini ;
Perusahaan Produk jenis skuter Keunggulan
Yamaha Yamaha MIO Memiliki bagasi, tanpa rantai, cocok untuk para wanita, suara mesin lebih halus, Ramah lingkungan.
Suzuki Suzuki Spin 125 Memiliki bagasi, tanpa rantai, cocok untuk para wanita, harga lebih terjangkau.
Honda Honda Vario Memiliki bagasi, tanpa rantai, cocok untuk para wanita, Ramah lingkungan dan hemat bahan bakar.
Kesimpulan.
Agar suatu perusahaan tetap bisa bertahan harus bisa mempertahankan pelanggan dengan cara mengeluarkan produk-produk yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan banyak pilihan warna dan gaya. Dan tidak kalah pentingnya adalah dengan berbagai kemudahan kemudahan untuk membelinya. Dewasa ini sudah banyak lembaga pembiayaan yang telah bekerja sama dengan perusahaan tersebut sehingga hanya dengan uang beberapa ratus ribu saja konsumen sudah bisa memiliki sepeda motor. Dan perusahaan tidak akan bisa tinggal diam karena semakin maju teknologi semakin banyak juga perusahaan yang berusaha mengeluarkan produk murah guna membunuh produk merk lain. Dan inilah yang disebut persaingan bisnis yang tak akan berhenti sampai akhir jaman.
Ditulis dalam Teknik Industri | Leave a Comment »
Bahasa Jepang
(日本語; romaji: Nihongo) merupakan bahasa resmi di Jepang dan jumlah penutur 127 juta jiwa.
Bahasa Jepang juga digunakan oleh sejumlah penduduk negara yang pernah ditaklukkannya seperti Korea dan Republik Cina. Ia juga dapat didengarkan di Amerika Serikat (California dan Hawaii) dan Brasil akibat emigrasi orang Jepang ke sana. Namun keturunan mereka yang disebut nisei (二世, generasi kedua), tidak lagi fasih dalam bahasa tersebut.
Bahasa Jepang terbagi kepada dua bentuk yaitu Hyoujungo (標準語), pertuturan standar, dan Kyoutsugo (共通語), pertuturan umum. Hyoujungo adalah bentuk yang diajarkan di sekolah dan digunakan di televisi dan segala perhubungan resmi.
Lafas vokal
Bahasa Jepang mempunyai 5 huruf vokal yaitu /a/, /i/, /ɯ/, /e/, dan /o/.
Lafaz vokal bahasa Jepang mirip bahasa Indonesia. Contohnya:
• /a/ seperti “bapa”
• /i/ seperti “ibu”
• /u/ seperti “urut”
• /e/ seperti “esok”
• /o/ seperti “obor”
Tulisan bahasa Jepang
Tulisan bahasa Jepang berasal dari tulisan bahasa China (漢字/kanji) yang diperkenalkan pada abad keempat Masehi. Sebelum ini, orang Jepang tidak mempunyai sistem penulisan sendiri.
Tulisan Jepang terbagi kepada tiga:
• aksara Kanji (漢字) yang berasal dari China
• aksara Hiragana (ひらがな) dan
• aksara Katakana (カタカナ); keduanya berunsur daripada tulisan kanji dan dikembangkan pada abad kedelapan Masehi oleh rohaniawan Buddha untuk membantu melafazkan karakter-karakter China.
Kedua aksara terakhir ini biasa disebut kana dan keduanya terpengaruhi fonetik bahasa Sansekerta. Hal ini masih bisa dilihat dalam urutan aksara Kana. Selain itu, ada pula sistem alihaksara yang disebut romaji.
Bahasa Jepang yang kita kenal sekarang ini, ditulis dengan menggunakan kombinasi aksara Kanji, Hiragana, dan Katakana. Kanji dipakai untuk menyatakan arti dasar dari kata (baik berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata sandang). Hiragana ditulis sesudah kanji untuk mengubah arti dasar dari kata tersebut, dan menyesuaikannya dengan peraturan tata bahasa Jepang.
Kana
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hiragana dan Katakana
Aksara Hiragana dan Katakana (kana) memiliki urutan seperti dibawah ini, memiliki 46 set huruf masing-masing. Keduanya (Hiragana dan Katakana) tidak memiliki arti apapun, seperti abjad dalam Bahasa Indonesia, hanya melambangkan suatu bunyi tertentu, meskipun ada juga kata-kata dalam bahasa Jepang yang terdiri dari satu ’suku kata’, seperti me(mata), ki (pohon) ni (dua), dsb. Abjad ini diajarkan pada tingkat pra-sekolah (TK) di Jepang.
Kanji
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kanji
Banyak sekali kanji yang diadaptasi dari Tiongkok, sehingga menimbulkan banyak kesulitan dalam membacanya. Dai Kanji Jiten adalah kamus kanji terbesar yang pernah dibuat, dan berisi 30.000 kanji. Kebanyakan kanji sudah punah, hanya terdapat pada kamus, dan sangat terbatas pemakaiannya, seperti pada penulisan suatu nama orang.
Oleh karena itu Pemerintah Jepang membuat suatu peraturan baru mengenai jumlah aksara kanji dalam Joyō Kanji atau kanji sehari-hari yang dibatasi penggunaannya sampai 1945 huruf saja. Aksara kanji melambangkan suatu arti tertentu. Suatu Kanji dapat dibaca secara dua bacaan, yaitu Onyōmi (adaptasi dari cara baca China) dan Kunyōmi (cara baca asli Jepang). Satu kanji bisa memiliki beberapa bacaan Onyomi dan Kunyomi.
Tanda baca
Dalam kalimat bahasa Jepang tidak ada spasi yang memisahkan antara kata dan tidak ada spasi yang memisahkan antara kalimat. Walaupun bukan merupakan tanda baca yang baku, kadang-kadang juga dijumpai penggunaan tanda tanya dan tanda seru di akhir kalimat.
Tanda baca yang dikenal dalam bahasa Jepang:
• 。(句点/kuten) Fungsinya serupa dengan tanda baca titik yakni untuk mengakhiri kalimat.
• 、(読点/toten) Fungsinya hampir serupa dengan tanda baca koma yakni untuk memisahkan bagian-bagian yang penting dalam kalimat agar lebih mudah dibaca
Angka dan Sistem Penghitungan
Bangsa Jepang pada zaman dahulu (dan dalam jumlah yang cukup terbatas pada zaman sekarang) menggunakan angka-angka Tionghoa, yang lalu dibawa ke Korea dan sampai ke Jepang. Berikut ini adalah daftar angka-angka Jepang.
一Satu
二Dua
三Tiga
四Empat
五Lima
六Enam
七Tujuh
八Delapan
九Sembilan
十Sepuluh
Setelah Kekaisaran Jepang mulai dipengaruhi oleh Eropa, angka-angka Latin mulai digunakan secara besar-besaran, dan hampir mengganti sepenuhnya kegunaan angka Tionghoa ini.
Dalam penggunaannya di Bahasa Jepang, dan untungnya juga agak mirip di bahasa Indonesia, angka-angka ini tidak bisa digunakan seperti itu saja untuk menyatakan sebuah jumlah dari sebuah barang, waktu dan sebagainya. Pertama-tama jenis barangnya harus dipertimbangkan, lalu ukurannya, dan akhirnya jumlahnya. Cara berhitung untuk waktu dan tanggal pun berbeda-beda, maka satu hal yang harus dilakukan adalah menghafalkan cara angka-angka ini bergabung dengan satuannya.
Cara menghitung barang
Barang secara umum
Untuk mengucapkan 1 buah yaitu ひとつ(hitotsu) dan seterusnya hanya menambahkan huruf tsu (つ)
Barang Panjang
Untuk mengucapkan 1 buah barang panjang (meteran) misal いっぽん(ippon). Biasa dipakai untuk menghitung jumlah pensil, botol, pohon.
Barang Tipis
Hanya perlu angka biasa ditambahi satuan まい(mai) sebagai akhiran, Misal:1 lembar いちまい(ichimai) ,dst . Bisa digunakan untuk menghitung jumlah kertas, baju, perangko, dan benda tipis lainnya.
Barang Besar
Hanya perlu angka biasa ditambahi satuan だい(dai) sebagai akhiran, Misal : 1 buah いちだい (ichidai),dst . Bisa digunakan untuk menghitung jumlah barang elektronik yang besar, atau barang besar pada umumnya, seperti televisi, kulkas, rumah, mobil dan sebagainya
Cara menghitung orang
Untuk mengucapkan seorang dan seterusnya menggunakan angka biasa ditambahi satuan にん(nin), misal: 3 orang さんにん (sannin) 7 orang しちにん (shichinin)
Tata Bahasa
Tata kalimat dalam Bahasa Jepang memakai aturan subyek-obyek. Subyek, obyek dan relasi gramatika lainnya biasa ditandai dengan partikel, yang menyisip di kalimat dan disebut posisi akhir (postposition). Struktur dasar kalimat memakai cabang topik. Contohnya adalah, Kochira-wa Tanaka-san desu (こちらは田中さんです). Kochira (“ini”) merupakan topik dari kalimat ini. Kata kerjanya ialah “desu” yang berarti “it is” dalam bahasa Inggris. Dan yang terakhir, Tanaka-san desu merupakan cabang atau komentar dari topik ini.
Infleksi dan Konjugasi
Dalam bahasa Jepang, kata benda tidak memiliki bentuk numeral, jenis kelamin, atau aspek lainnya. Contohnhya pada kata benda hon (本) yang mungkin berarti sebuah atau beberapa buku. Juga pada kata hito (人) yang mungkin berarti orang atau sekumpulan orang. Kata untuk menyebut orang biasanya dalam bentuk tunggal, contohnya Harada-san. Kalau kata panggil jamak, biasanya disebut -tachi.
Pertanyaan mempunyai bentuk yang sama dengan kalimat afirmatif. Intonasi akan meninggi setiap akhir dari kalimat pertanyaan. Dalam situasi resmi, biasanya kalimat pertanyaan disertai partikel -ka. Contohnya, kalimat Ii desu (いいです。) yang berarti “Baiklah” menjadi bentuk Ii desu ka (いいですか?) yang berarti “Boleh kan?”. Biasanya pada situasi tidak resmi, partikel -no (の) untuk menunjukkan penekanan, contohnya pada kalimat Doshite konai-no? yang berarti “Kenapa (kamu) tidak datang?”.
Kalimat negatif dibentuk dengan merubah bentuk kata kerja. Contohnya pada kalimat Pan o taberu (パンを食べる。) yang artinya “Saya akan makan roti) menjadi Pan-o tabenai (パンを食べない。) yang artinya “Saya tidak akan makan roti”.
Ada tiga bentuk kata sifat dalam bahasa Jepang:
1. 形容詞 (keiyoshi) yaitu penambahan partikel -i, yang memiliki akhiran konjugasi い (i). Contohnya: 暑い日 (atsui hi) yang berarti “hari yang panas”
2. 形容動詞 (keiyodoshi) yaitu penambahan partikel -na. Contoh: 変なひと (henna hito) yang berarti “orang aneh”
3. 連体詞 (rentaishi) yaitu kata sifat sebenarnya. Contoh: あの山 (ano yama)
Bahasa Jepang juga memiliki beberapa partikel yaitu:
• が ga untuk bentuk nominatif
• に ni untuk bentuk dativ.
• の no untuk bentuk genital
• を o untuk bentuk akusatif
• は a sebagai topik
Biasanya untuk menghormati orang yang lebih tinggi, seperti kepada menteri atau direktur, dipakai bahasa Jepang sopan yang disebut (丁寧語) teineigo. Untuk menyebut nama menteri, diakhiri dengan partikel -sama atau -sangi. Contoh: Katsumoto-sangi (勝本ー参議). Untuk berkenalan, kita harus menggunakan bentuk bahasa sopan. Tapi, kalau sudah akrab, kita boleh memakai bahasa umum.
Kosa kata
Bahasa Asli Jepang yaitu berasal dari bahasa asli pemukim Jepang zaman dahulu disebut yamato kotoba (大和言葉 ) yang berarti kosa kata Yamato. Kosakata Jepang sebagian besar berakar atau berasal dari Cina disebut kango (漢語) yang masuk pada abad ke-5 lewat Semenanjung Korea. Jepang banyak mengadopsi kosakata dari bahasa Inggris, kata-kata adopsi ini umumnya ditulis menggunakan huruf katakana. Contoh: マイカー (maikaa – sama dengan pelafalan “my car”) yang berarti “mobil saya”
Belajar Bahasa Jepang
Beberapa universitas internasional di dunia mengajarkan bahasa Jepang. Mulainya ketertarikan belajar bahasa Jepang sewaktu abad ke-18 Masehi, lalu melonjak dimana Jepang mulai memimpin ekonomi dunia pada tahun 1980. Bahasa Jepang semakin diminati karena mendominasi dunia kartun (anime dan manga) di seluruh penjuru dunia. Kebanyakan dari otaku (penggemar anime) bisa berbicara bahasa Jepang walaupun hanya dasarnya. Pemerintah Jepang sebagai pihak yang mengatur bahasa Jepang menyediakan tes profisiensi sejenis TOEFL yaitu JLPT (Japanese Language Proficiency Test).
Kekerabatan bahasa Jepang
Para pakar bahasa tidak mengetahui secara pasti kekerabatan bahasa Jepang dengan bahasa lain. Ada yang menghubungkannya dengan bahasa Altai, namun ada pula yang menghubungkannya dengan bahasa Austronesia. Selain itu ada pula kemiripan secara tatabahasa dan dalam susunan kalimat serta secara fonetik dengan bahasa Korea meski secara kosakata tidaklah begitu mirip
Dikutip dari wikipedia.org
Ditulis dalam Bahasa | Leave a Comment »



